Super Derbi Jawa Timur dikenal sebagai sebuah pertandingan derbi sepak bola dengan atmosfer paling panas dalam sejarah sepak bola antara sesama klub asal provinsi Jawa Timur yaitu Arema FC dan Persebaya Surabaya, yang pertama kali bertemu sejak tahun 1992.
Arema FC dan Persebaya Surabaya merupakan dua klub yang berbeda generasi, Arema lahir tahun 1987 sedangkan Persebaya lahir sejak 1927. Perseteruan antara dua tim ini adalah lebih kepada persaingan dan gengsi demi menunjukkan siapa yang terbaik di provinsi Jawa Timur. Dengan didukung oleh kelompok suporter kedua tim yang sama-sama terkenal fanatik yaitu Aremania dikubu Arema FC dan Bonek dikubu Persebaya Surabaya ditambah perang urat syaraf (psywar) yang dilakukan oleh kedua kelompok suporter tersebut menjelang pertandingan dan pasca pertandingan menjadikan Super Derbi Jawa Timur ini adalah pertandingan yang paling dinanti-nantikan di Jawa Timur bahkan di Indonesia.
Sejarah
Atmosfer pada awal pertemuan pertama antara Arema Malang vs. Persebaya hanya biasa-biasa saja, karena memang Persebaya dan Arema berada pada habitat yang berbeda, Persebaya yang lahir 1927 berkompetisi di Divisi Utama Perserikatan, sedangkan Arema Malang yang lahir 1987 berkompetisi di Galatama. Dulunya tim-tim perserikatan ini umumnya adalah tim plat merah alias milik pemerintah yang pendanaanya berasal dari APBD pemerintah kota/kab. dimana tim itu berasal sedangkan tim Galatama merupakan tim swasta atau tim profesional yang umumnya dimiliki oleh perusahaan ataupun yayasan.
Kisah awal perseteruan klub sepak bola dua kota bertetangga Surabaya dan Malang ini sebenarnya bukan antara Arema dan Persebaya, karena secara tradisi, pesaing Persebaya di Jawa Timur adalah Persema Malang yang merupakan sesama klub Perserikatan. Sementara saingan Arema sesama klub Galatama adalah Niac Mitra klub asal Surabaya yang kemudian bertransformasi menjadi Mitra Surabaya di ajang Galatama.
Selisih usia yang mencapai 60 tahun membuat keduanya yaitu Arema dan Persebaya tumbuh pada masa yang berbeda pula.
Kondisi tersebut berubah sejak kompetisi Divisi Utama Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi kompetisi Liga Indonesia pada tahun 1994. Pada masa itu, masih ada Persema dan Mitra Surabaya (suksesor Niac Mitra). Namun basis pendukung yang lebih banyak di Persebaya dan Arema membuat persaingan akhirnya mengerucut ke kedua tim tersebut.
Saat prestasi Persema kalah mentereng ketimbang Arema, dan ditambah lagi Mitra Surabaya yang akhirnya bubar, suporter Malang dan Surabaya makin fokus mendukung Arema dan Persebaya. Karena panasnya aroma persaingan, kala kompetisi masih terbagi dalam dua wilayah Timur dan Barat, Arema dan Persebaya sengaja dipisahkan ke wilayah yang berbeda.
Tujuannya tentu guna menghindari laga rawan gesekan suporter jika terjadi derbi Jawa Timur. Ketika kompetisi tak lagi memakai sistem dua wilayah, derbi Jatim tak terelakkan. Guna menghindari gesekan dan bentrok antar suporter, hingga kini peraturan kesepakatan bersama yang dibuat pada tahun 1988 yang melarang kedua suporter untuk saling datang masih diberlakukan. Namun dari semua kisah ini tak ada yang bisa menetapkan satu cerita tunggal yang menjadi awal muasal persaingan tersebut terjadi.